A. MODEL PEMBELJARAN PAIKEM
1. Pengertian
PAIKEM
adalah singkatan dari Pembelajaran Aktif, Inovatif, Kreatif, Efektif, dan Menyenangkan. Aktif
dimaksudkan bahwa dalam proses pembelajaran guru harus menciptakan suasana
sedemikian rupa sehingga siswa aktif bertanya, mempertanyakan, dan mengemukakan
gagasan. Belajar memang merupakan suatu proses aktif dari si pembelajar dalam
membangun pengetahuannya, bukan proses pasif yang hanya menerima kucuran
ceramah guru tentang pengetahuan. Jika pembelajaran tidak memberikan kesempatan
kepada siswa untuk berperan aktif, maka pembelajaran tersebut bertentangan
dengan hakikat belajar. Peran aktif dari siswa sangat penting dalam rangka
pembentukan generasi yang kreatif, yang mampu menghasilkan sesuatu untuk
kepentingan dirinya dan orang lain.
Kreatif juga
dimaksudkan agar guru menciptakan kegiatan belajar yang beragam sehingga
memenuhi berbagai tingkat kemampuan siswa.
Menyenangkan adalah suasana belajar-mengajar yang menyenangkan sehingga
siswa memusatkan perhatiannya secara penuh pada belajar sehingga waktu curah
perhatiannya (“time on task”) tinggi. Menurut hasil penelitian, tingginya waktu
curah perhatian terbukti meningkatkan hasil belajar. Keadaan aktif dan
menyenangkan tidaklah cukup jika proses pembelajaran tidak efektif, yaitu tidak
menghasilkan apa yang harus dikuasai siswa setelah proses pembelajaran
berlangsung, sebab pembelajaran memiliki sejumlah tujuan pembelajaran yang
harus dicapai. Jika pembelajaran hanya aktif dan menyenangkan tetapi tidak
efektif, maka pembelajaran tersebut tak ubahnya seperti bermain biasa.\
2. Jenis-jenis
a. Koperatif (CL, Cooperative Learning).
Pembelajaran koperatif
sesuai dengan fitrah manusia sebagai makhluk sosial yang penuh ketergantungan
dengan otrang lain, mempunyai tujuan dan tanggung jawab bersama, pembegian
tugas, dan rasa senasib. Dengan memanfaatkan kenyatan itu, belajar berkelompok
secara koperatif, siswa dilatih dan dibiasakan untuk saling berbagi (sharing)
pengetahuan, pengalaman, tugas, tanggung jawab. Saling membantu dan berlatih
berinteraksi-komunikasi-sosialisasi karena koperatif adalah miniature dari
hidup bermasyarakat, dan belajar menyadari kekurangan dan kelebihan
masing-masing.
Jadi model pembelajaran
koperatif adalah kegiatan pembelajaran dengan cara berkelompok untuk bekerja
sama saling membantu mengkontruksu konsep, menyelesaikan persoalan, atau
inkuiri. Menurut teori dan pengalaman agar kelompok kohesif
(kompak-partisipatif), tiap anggota kelompok terdiri dari 4 – 5 orang, siswa
heterogen (kemampuan, gender, karekter), ada control dan fasilitasi, dan
meminta tanggung jawab hasil kelompok berupa laporan atau presentasi.
Sintaks pembelajaran koperatif adalah informasi, pengarahan-strategi, membentuk kelompok heterogen, kerja kelompok, presentasi hasil kelompok, dan pelaporan.
Sintaks pembelajaran koperatif adalah informasi, pengarahan-strategi, membentuk kelompok heterogen, kerja kelompok, presentasi hasil kelompok, dan pelaporan.
b. Kontekstual (CTL, Contextual Teaching and Learning)
Pembelajaran
kontekstual adalah pembelajaran yang dimulai dengan sajian atau tanya jawab
lisan (ramah, terbuka, negosiasi) yang terkait dengan dunia nyata kehidupan
siswa (daily life modeling), sehingga akan terasa manfaat dari materi yang akan
disajkan, motivasi belajar muncul, dunia pikiran siswa menjadi konkret, dan
suasana menjadi kondusif - nyaman dan menyenangkan. Pensip pembelajaran
kontekstual adalah aktivitas siswa, siswa melakukan dan mengalami, tidak hanya
menonton dan mencatat, dan pengembangan kemampuan sosialisasi.
Ada tujuh indokator pembelajarn kontekstual sehingga bisa dibedakan dengan model lainnya, yaitu modeling (pemusatan perhatian, motivasi, penyampaian kompetensi-tujuan, pengarahan-petunjuk, rambu-rambu, contoh), questioning (eksplorasi, membimbing, menuntun, mengarahkan, mengembangkan, evaluasi, inkuiri, generalisasi), learning community (seluruh siswa partisipatif dalam belajar kelompok atau individual, minds-on, hands-on, mencoba, mengerjakan), inquiry (identifikasi, investigasi, hipotesis, konjektur, generalisasi, menemukan), constructivism (membangun pemahaman sendiri, mengkonstruksi konsep-aturan, analisis-sintesis), reflection (reviu, rangkuman, tindak lanjut), authentic assessment (penilaian selama proses dan sesudah pembelajaran, penilaian terhadap setiap aktvitas-usaha siswa, penilaian portofolio, penilaian seobjektif-objektifnya darei berbagai aspek dengan berbagai cara).
Ada tujuh indokator pembelajarn kontekstual sehingga bisa dibedakan dengan model lainnya, yaitu modeling (pemusatan perhatian, motivasi, penyampaian kompetensi-tujuan, pengarahan-petunjuk, rambu-rambu, contoh), questioning (eksplorasi, membimbing, menuntun, mengarahkan, mengembangkan, evaluasi, inkuiri, generalisasi), learning community (seluruh siswa partisipatif dalam belajar kelompok atau individual, minds-on, hands-on, mencoba, mengerjakan), inquiry (identifikasi, investigasi, hipotesis, konjektur, generalisasi, menemukan), constructivism (membangun pemahaman sendiri, mengkonstruksi konsep-aturan, analisis-sintesis), reflection (reviu, rangkuman, tindak lanjut), authentic assessment (penilaian selama proses dan sesudah pembelajaran, penilaian terhadap setiap aktvitas-usaha siswa, penilaian portofolio, penilaian seobjektif-objektifnya darei berbagai aspek dengan berbagai cara).
c. Pembelajaran Langsung (DL, Direct Learning)
Pengetahuan yang
bersifat informasi dan prosedural yang menjurus pada ketrampilan dasar akan
lebih efektif jika disampaikan dengan cara pembelajaran langsung. Sintaknya
adalah menyiapkan siswa, sajian informasi dan prosedur, latihan terbimbing,
refleksi, latihan mandiri, dan evaluasi. Cara ini sering disebut dengan metode
ceramah atau ekspositori (ceramah bervariasi).
d. Pembelajaran Berbasis masalah (PBL, Problem Based
Learning)
Kehidupan adalah identik dengan menghadapi masalah. Model pembelajaran ini melatih dan mengembangkan kemampuan untuk menyelesaikan masalah yang berorientasi pada masalah otentik dari kehidupan aktual siswa, untuk merangsang kemamuan berpikir tingkat tinggi. Kondisi yang tetap hatrus dipelihara adalah suasana kondusif, terbuka, negosiasi, demokratis, suasana nyaman dan menyenangkan agar siswa dap[at berpikir optimal.
Indikator model pembelajaran ini adalah metakognitif, elaborasi (analisis), interpretasi, induksi, identifikasi, investigasi, eksplorasi, konjektur, sintesis, generalisasi, dan inkuiri
Kehidupan adalah identik dengan menghadapi masalah. Model pembelajaran ini melatih dan mengembangkan kemampuan untuk menyelesaikan masalah yang berorientasi pada masalah otentik dari kehidupan aktual siswa, untuk merangsang kemamuan berpikir tingkat tinggi. Kondisi yang tetap hatrus dipelihara adalah suasana kondusif, terbuka, negosiasi, demokratis, suasana nyaman dan menyenangkan agar siswa dap[at berpikir optimal.
Indikator model pembelajaran ini adalah metakognitif, elaborasi (analisis), interpretasi, induksi, identifikasi, investigasi, eksplorasi, konjektur, sintesis, generalisasi, dan inkuiri
3. Langkah-langkah
Pembelajaran
Pertama,
proses Interaksi (siswa berinteraksi secara aktif dengan guru, rekan siswa,
multi-media, referensi, lingkungan dsb). Kedua, proses Komunikasi (siswa
mengkomunikasikan pengalaman belajar mereka dengan guru dan rekan siswa lain
melalui cerita, dialog atau melalui simulasi role-play). Ketiga, proses
Refleksi, (siswa memikirkan kembali tentang kebermaknaan apa yang mereka telah
pelajari, dan apa yang mereka telah lakukan). Keempat, proses Eksplorasi (siswa
mengalami langsung dengan melibatkan semua indera mereka melalui pengamatan,
percobaan, penyelidikan dan/atau wawancara).
Dalam
pelaksanaannya model PAIKEM harus memperhatikan bakat, minat dan modalitas
belajar siswa, dan bukan semata potensi akademiknya. Dalam pendekatan
pembelajaran Quantum (Quantum Learning) ada tiga macam modalitas siswa, yaitu
modalitas visual, auditorial dan kinestetik. Dengan modalitas visual
dimaksudkan bahwa kekuatan belajar siswa terletak pada indera ‘mata’ (membaca
teks, grafik atau dengan melihat suatu peristiwa), kekuatan auditorial terletak
pada indera ‘pendengaran’ (mendengar dan menyimak penjelasan atau cerita), dan
kekuatan kinestetik terletak pada ‘perabaan’ (seperti menunjuk, menyentuh atau
melakukan). Jadi, dengan memahami kecenderungan potensi modalitas siswa
tersebut, maka seorang guru harus mampu merancang media, metoda/atau materi
pembelajaran kontekstual yang relevan dengan kecenderungan potensi atau
modalitas belajar siswa.
4. Kelebihan
dan Kelemahan
a. Kelebihan
·
Pakem
merupakan pembelajaran yang mengembangkan kecakapan hidup
·
Dalam
pakem siswa belajar bekerja sama
·
Pakem
mendorong siswa menghasilkan karya kreatif
·
Pakem
mendorong siswa untuk terus maju mencapai sukses
·
Pakem
menghargai potensi semua siswa
·
Program
untuk meningkatkat pakem disekolah harus ditingkatkan kuantitas dan kualitasnya
·
Peserta
didk akan lebih termotovasi untuk belajar karena adanya variasi dalam proses
pembelajaran
·
Peserta
didik dapat lebih mengembangkan dirinya
·
Peserta
didik tidakjenuh dengan pembelajarn di kelas
·
Peserta
didik dapat memecahkan permasalahan dengan memanfaatkan lingkungan sekitarnya
·
Mental
dan fisik peserta didik akan terasah secara optimal
b. kekurangan
·
Perbedaan
individual siswa belum diperhatikan termasuk laki-laki / perempuan,
pintar/kurang pintar,social,ekonomi tinggi/rendah
·
Pembelajaran
belum membelajarkan kecakapan hidup
·
Pengelompokan
siswa masih dari segi pengaturan tempat duduk,kegiatan yang dilakukan siswa
sering kali belum mencerminkan belajar kooperatif yang benar
·
Guru
belum memperoleh kesempatan menyaksikan pembelajaran pakem yang baik
·
Pajangan
sering menampilkan hasil kerja siswa yang cenderung seragam
·
Pembelajaran
masih sering berupa pengisian lembar kerja siswa (LKS) yang sebagian besar
pertanyaanya bersifat tertutup
·
Guru
harus meyiapkan pembelajaran yang lebih dari sekedar ceramah, maka dibutuhkan
alat dan bahan yang lebih pula untuk melaksanakan pembelajaran tersebut
·
Guru
harus bisa mengcover semua kebutuhan siswa baik dari segi mental maupun fisik
·
Sarana
dan prasarana harus memadai, sehingga sekolah-sekolah yang berada di daerah
sulit untuk mengembangkan PAKEM
Secara garis besar, PAIKEM dapat
digambarkan sebagai berikut:
a. Siswa terlibat dalam berbagai
kegiatan yang mengembangkan pemahaman dan kemampuan mereka dengan penekanan
pada belajar melalui berbuat.
b. Guru menggunakan berbagai alat bantu
dan berbagai cara dalam membangkitkan semangat, termasuk menggunakan lingkungan
sebagai sumber belajar untuk menjadikan pembelajaran menarik, menyenangkan, dan
cocok bagi siswa.
c. Guru mengatur kelas dengan memajang
buku-buku dan bahan belajar yang lebih menarik dan menyediakan ‘pojok baca’
d. Guru menerapkan cara mengajar yang
lebih kooperatif dan interaktif, termasuk cara belajar kelompok.
e. Guru mendorong siswa untuk menemukan
caranya sendiri dalam pemecahan suatu masalah, untuk mengungkapkan gagasannya,
dan melibatkam siswa dalam menciptakan lingkungan sekolahnya.
MEDIA
PEMBELAJARAN
A. belajar
Sering kali kita bertanya, apait
belajar? Belajar merupakan Usaha sadar seseorang untuk merubah tingkah laku,
melaui interaksi dengan sumber belajar. Perubahan tingkah laku yang dihasilkan bersifat permanen dan ke arah
positif. Perubahan tingkah laku dapat
berupa kogninif, afektif, psikhomotorik Proses belajar hanya bisa
berlangsung jika terjadi interaksi antara si belajar dengan sumber belajar. Terjadinya proses belajar tidak selalu harus ada orang
yang mengajar. Kegiatan belajar tak dapat
diwakili orang lain, harus dialami sendiri oleh si belajar. Mengajar merupakan upaya untuk membuat orang lain
belajar. Istilah “pembelajaran” lebih bermakna bagi si
belajar daripada “pengajaran”. Peran utama pembelajar
(guru, tutor, widyaiswara) adalah
menciptakan kondisi agar terjadi kegiatan belajar pada si belajar.
B.
Sumber Belajar dan Media Pembelajaran
Media Belajar merupakan bagian
dari sumber belajar. Sumber belajar dapat berupa:
pesan, orang, alat, bahan, teknik dan lingkungan. Kombinasi bahan
(soft-ware) dan alat (hard-ware) dinamakan media pembelajaran. Media pembelajaran : segala sesuatu yang dapat
digunakan untuk merangsang fikiran, perasaan, perhatian dan kemauan pebelajar
sehingga mendorong terjadinya kegiatan belajar.
Bentuk Penyajian
|
Tingkat Pemahaman dan Ingatan
|
Verbal saja
|
1
|
Visual saja
|
3,5
|
Verbal+Visual
|
6
|
| Add caption |
Pengetahuan manusia diperoleh melalui :
Ø Melihat 75 %
Ø Mendengar 13%
Ø Merasa,
Ø mencium & 12
%
Ø meraba
Kontribusi media dalam pembelajaran menurut (Kemp and Dayton, 1985) :
l Penyampaian pesan
pembelajaran dapat lebih terstandar
l Pembelajaran dapat lebih
menarik
l Pembelajaran menjadi lebih
interaktif dengan menerapkan teori belajar
l Waktu pelaksanaan
pembelajaran dapat diperpendek
l Kualitas pembelajaran dapat
ditingkatkan
l Proses pembelajaran dapat
berlangsung kapanpun dan dimanapun diperlukan
l Sikap positif siswa terhadap
materi dan proses pembelajaran dapat
ditingkatkan
l Peran guru berubahan kearah
yang positif
Peran media dalam pembelajaran :
l Membuat kongkrit konsep yang
abstrak
l Mengetengahkan bagian
tertentu yang dianggap penting
l Memberikan pengganti
pengalaman langsung
l Mendekatkan obyek yang sukar
atau berbahaya untuk didekati
l Memberikan pengalaman segi
pengamatan
l Menyajikan perbedaan warna
secara visual
l Menyajikan informasi yang
memerlukan gerak
Tipe Gaya Belajar (Jeannett Vos, 2001) :
1. Tipe Auditorial:
Belajar lebih efektif
dengan cara mendengarkan
2. Visual:
Belajar lebih efektif
dengan cara melihat
3. Kinestetik:
Belajar lebih efektif jika
sambil melakukan sesuatu.
Klasifikasi
Media
menurut (Anderson, 1993)
No
|
Gol Media
|
Contoh Media Instruksional
|
1
|
Audio
|
Kaset audio, siaran radio,
CD
|
2
|
Bahan
Cetak
|
Gambar/foto,
buku, modul, grafis, dll
|
3
|
Audio
cetak
|
Modul
cetak dg kaset
|
4
|
Visual
Proyeksi Diam
|
Film
bingkai (slide), trasnparansi
|
5
|
AV
Proyeksi Diam
|
Film
bingkai suara
|
6
|
Visual
Gerak
|
Film
gerak tanpa suara (film bisu)
|
7
|
AV
Gerak
|
Video,
TV, VCD
|
8
|
Objek
fisik
|
Benda
nyata, model, specimen
|
9
|
Komputer
|
Multimedia,
e-learning
|
Alasan Tidak
Menggunakan Media :
•
Menggunakan
media merepotkan
•
Media
itu barang canggih dan mahal
•
Tidak
tahu media atau tidak bisa menggunakan
•
Media
itu sekedar hiburan, belajar harus serius
•
Media
itu pemborosan
•
Dari
dulu tidak pakai media banyak juga orang pandai.