Senin, 02 Februari 2015

Blog ini di buat untuk memenuhi tugas akhir mata kuliah pendidikan IPA oleh bu ARFILIA WIJAYANTI, S. Pd.



A.    MODEL PEMBELJARAN PAIKEM
1.      Pengertian
PAIKEM adalah singkatan dari Pembelajaran Aktif, Inovatif,  Kreatif, Efektif, dan Menyenangkan. Aktif dimaksudkan bahwa dalam proses pembelajaran guru harus menciptakan suasana sedemikian rupa sehingga siswa aktif bertanya, mempertanyakan, dan mengemukakan gagasan. Belajar memang merupakan suatu proses aktif dari si pembelajar dalam membangun pengetahuannya, bukan proses pasif yang hanya menerima kucuran ceramah guru tentang pengetahuan. Jika pembelajaran tidak memberikan kesempatan kepada siswa untuk berperan aktif, maka pembelajaran tersebut bertentangan dengan hakikat belajar. Peran aktif dari siswa sangat penting dalam rangka pembentukan generasi yang kreatif, yang mampu menghasilkan sesuatu untuk kepentingan dirinya dan orang lain.
Kreatif juga dimaksudkan agar guru menciptakan kegiatan belajar yang beragam sehingga memenuhi berbagai tingkat kemampuan siswa.  Menyenangkan adalah suasana belajar-mengajar yang menyenangkan sehingga siswa memusatkan perhatiannya secara penuh pada belajar sehingga waktu curah perhatiannya (“time on task”) tinggi. Menurut hasil penelitian, tingginya waktu curah perhatian terbukti meningkatkan hasil belajar. Keadaan aktif dan menyenangkan tidaklah cukup jika proses pembelajaran tidak efektif, yaitu tidak menghasilkan apa yang harus dikuasai siswa setelah proses pembelajaran berlangsung, sebab pembelajaran memiliki sejumlah tujuan pembelajaran yang harus dicapai. Jika pembelajaran hanya aktif dan menyenangkan tetapi tidak efektif, maka pembelajaran tersebut tak ubahnya seperti bermain biasa.\
2.      Jenis-jenis
a.       Koperatif (CL, Cooperative Learning).
Pembelajaran koperatif sesuai dengan fitrah manusia sebagai makhluk sosial yang penuh ketergantungan dengan otrang lain, mempunyai tujuan dan tanggung jawab bersama, pembegian tugas, dan rasa senasib. Dengan memanfaatkan kenyatan itu, belajar berkelompok secara koperatif, siswa dilatih dan dibiasakan untuk saling berbagi (sharing) pengetahuan, pengalaman, tugas, tanggung jawab. Saling membantu dan berlatih berinteraksi-komunikasi-sosialisasi karena koperatif adalah miniature dari hidup bermasyarakat, dan belajar menyadari kekurangan dan kelebihan masing-masing.
Jadi model pembelajaran koperatif adalah kegiatan pembelajaran dengan cara berkelompok untuk bekerja sama saling membantu mengkontruksu konsep, menyelesaikan persoalan, atau inkuiri. Menurut teori dan pengalaman agar kelompok kohesif (kompak-partisipatif), tiap anggota kelompok terdiri dari 4 – 5 orang, siswa heterogen (kemampuan, gender, karekter), ada control dan fasilitasi, dan meminta tanggung jawab hasil kelompok berupa laporan atau presentasi.
Sintaks pembelajaran koperatif adalah informasi, pengarahan-strategi, membentuk kelompok heterogen, kerja kelompok, presentasi hasil kelompok, dan pelaporan.
b.      Kontekstual (CTL, Contextual Teaching and Learning)
Pembelajaran kontekstual adalah pembelajaran yang dimulai dengan sajian atau tanya jawab lisan (ramah, terbuka, negosiasi) yang terkait dengan dunia nyata kehidupan siswa (daily life modeling), sehingga akan terasa manfaat dari materi yang akan disajkan, motivasi belajar muncul, dunia pikiran siswa menjadi konkret, dan suasana menjadi kondusif - nyaman dan menyenangkan. Pensip pembelajaran kontekstual adalah aktivitas siswa, siswa melakukan dan mengalami, tidak hanya menonton dan mencatat, dan pengembangan kemampuan sosialisasi.
Ada tujuh indokator pembelajarn kontekstual sehingga bisa dibedakan dengan model lainnya, yaitu modeling (pemusatan perhatian, motivasi, penyampaian kompetensi-tujuan, pengarahan-petunjuk, rambu-rambu, contoh), questioning (eksplorasi, membimbing, menuntun, mengarahkan, mengembangkan, evaluasi, inkuiri, generalisasi), learning community (seluruh siswa partisipatif dalam belajar kelompok atau individual, minds-on, hands-on, mencoba, mengerjakan), inquiry (identifikasi, investigasi, hipotesis, konjektur, generalisasi, menemukan), constructivism (membangun pemahaman sendiri, mengkonstruksi konsep-aturan, analisis-sintesis), reflection (reviu, rangkuman, tindak lanjut), authentic assessment (penilaian selama proses dan sesudah pembelajaran, penilaian terhadap setiap aktvitas-usaha siswa, penilaian portofolio, penilaian seobjektif-objektifnya darei berbagai aspek dengan berbagai cara).
c.       Pembelajaran Langsung (DL, Direct Learning)
Pengetahuan yang bersifat informasi dan prosedural yang menjurus pada ketrampilan dasar akan lebih efektif jika disampaikan dengan cara pembelajaran langsung. Sintaknya adalah menyiapkan siswa, sajian informasi dan prosedur, latihan terbimbing, refleksi, latihan mandiri, dan evaluasi. Cara ini sering disebut dengan metode ceramah atau ekspositori (ceramah bervariasi).
d.      Pembelajaran Berbasis masalah (PBL, Problem Based Learning)
Kehidupan adalah identik dengan menghadapi masalah. Model pembelajaran ini melatih dan mengembangkan kemampuan untuk menyelesaikan masalah yang berorientasi pada masalah otentik dari kehidupan aktual siswa, untuk merangsang kemamuan berpikir tingkat tinggi. Kondisi yang tetap hatrus dipelihara adalah suasana kondusif, terbuka, negosiasi, demokratis, suasana nyaman dan menyenangkan agar siswa dap[at berpikir optimal.
Indikator model pembelajaran ini adalah metakognitif, elaborasi (analisis), interpretasi, induksi, identifikasi, investigasi, eksplorasi, konjektur, sintesis, generalisasi, dan inkuiri
3.      Langkah-langkah Pembelajaran
Pertama, proses Interaksi (siswa berinteraksi secara aktif dengan guru, rekan siswa, multi-media, referensi, lingkungan dsb). Kedua, proses Komunikasi (siswa mengkomunikasikan pengalaman belajar mereka dengan guru dan rekan siswa lain melalui cerita, dialog atau melalui simulasi role-play). Ketiga, proses Refleksi, (siswa memikirkan kembali tentang kebermaknaan apa yang mereka telah pelajari, dan apa yang mereka telah lakukan). Keempat, proses Eksplorasi (siswa mengalami langsung dengan melibatkan semua indera mereka melalui pengamatan, percobaan, penyelidikan dan/atau wawancara).
Dalam pelaksanaannya model PAIKEM harus memperhatikan bakat, minat dan modalitas belajar siswa, dan bukan semata potensi akademiknya. Dalam pendekatan pembelajaran Quantum (Quantum Learning) ada tiga macam modalitas siswa, yaitu modalitas visual, auditorial dan kinestetik. Dengan modalitas visual dimaksudkan bahwa kekuatan belajar siswa terletak pada indera ‘mata’ (membaca teks, grafik atau dengan melihat suatu peristiwa), kekuatan auditorial terletak pada indera ‘pendengaran’ (mendengar dan menyimak penjelasan atau cerita), dan kekuatan kinestetik terletak pada ‘perabaan’ (seperti menunjuk, menyentuh atau melakukan). Jadi, dengan memahami kecenderungan potensi modalitas siswa tersebut, maka seorang guru harus mampu merancang media, metoda/atau materi pembelajaran kontekstual yang relevan dengan kecenderungan potensi atau modalitas belajar siswa.
4.      Kelebihan dan Kelemahan
a.       Kelebihan
·         Pakem merupakan pembelajaran yang mengembangkan kecakapan hidup
·         Dalam pakem siswa belajar bekerja sama
·         Pakem mendorong siswa menghasilkan karya kreatif
·         Pakem mendorong siswa untuk terus maju mencapai sukses
·         Pakem menghargai potensi semua siswa
·         Program untuk meningkatkat pakem disekolah harus ditingkatkan kuantitas dan kualitasnya
·         Peserta didk akan lebih termotovasi untuk belajar karena adanya variasi dalam proses pembelajaran
·         Peserta didik dapat lebih mengembangkan dirinya
·         Peserta didik tidakjenuh dengan pembelajarn di kelas
·         Peserta didik dapat memecahkan permasalahan dengan memanfaatkan lingkungan sekitarnya
·         Mental dan fisik peserta didik akan terasah secara optimal
b.      kekurangan  
·         Perbedaan individual siswa belum diperhatikan termasuk laki-laki / perempuan, pintar/kurang pintar,social,ekonomi tinggi/rendah
·         Pembelajaran belum membelajarkan kecakapan hidup
·         Pengelompokan siswa masih dari segi pengaturan tempat duduk,kegiatan yang dilakukan siswa sering kali belum mencerminkan belajar kooperatif yang benar
·         Guru belum memperoleh kesempatan menyaksikan pembelajaran pakem yang baik
·         Pajangan sering menampilkan hasil kerja siswa yang cenderung seragam
·         Pembelajaran masih sering berupa pengisian lembar kerja siswa (LKS) yang sebagian besar pertanyaanya bersifat tertutup
·         Guru harus meyiapkan pembelajaran yang lebih dari sekedar ceramah, maka dibutuhkan alat dan bahan yang lebih pula untuk melaksanakan pembelajaran tersebut
·         Guru harus bisa mengcover semua kebutuhan siswa baik dari segi mental maupun fisik
·         Sarana dan prasarana harus memadai, sehingga sekolah-sekolah yang berada di daerah sulit untuk mengembangkan PAKEM
5.      Contoh Penerapan
Secara garis besar, PAIKEM dapat digambarkan sebagai berikut:
a.       Siswa terlibat dalam berbagai kegiatan yang mengembangkan pemahaman dan kemampuan mereka dengan penekanan pada belajar melalui berbuat.
b.      Guru menggunakan berbagai alat bantu dan berbagai cara dalam membangkitkan semangat, termasuk menggunakan lingkungan sebagai sumber belajar untuk menjadikan pembelajaran menarik, menyenangkan, dan cocok bagi siswa.
c.       Guru mengatur kelas dengan memajang buku-buku dan bahan belajar yang lebih menarik dan menyediakan ‘pojok baca’
d.      Guru menerapkan cara mengajar yang lebih kooperatif dan interaktif, termasuk cara belajar kelompok.
e.       Guru mendorong siswa untuk menemukan caranya sendiri dalam pemecahan suatu masalah, untuk mengungkapkan gagasannya, dan melibatkam siswa dalam menciptakan lingkungan sekolahnya.


MEDIA PEMBELAJARAN
A.    belajar
Sering kali kita bertanya, apait belajar? Belajar merupakan Usaha sadar seseorang untuk merubah tingkah laku, melaui interaksi dengan sumber belajar. Perubahan tingkah laku yang dihasilkan bersifat permanen dan ke arah positif. Perubahan tingkah laku  dapat  berupa kogninif, afektif, psikhomotorik Proses belajar hanya bisa berlangsung jika terjadi interaksi antara si belajar dengan sumber belajar. Terjadinya proses belajar tidak selalu harus ada orang yang mengajar. Kegiatan belajar tak dapat diwakili orang lain, harus dialami sendiri oleh si belajar. Mengajar merupakan upaya untuk membuat orang lain belajar. Istilah “pembelajaran” lebih bermakna bagi si belajar daripada “pengajaran”. Peran utama pembelajar (guru, tutor, widyaiswara)  adalah menciptakan kondisi agar terjadi kegiatan belajar pada si belajar.
B.     Sumber Belajar dan Media Pembelajaran
Media Belajar  merupakan bagian dari sumber belajar. Sumber belajar dapat berupa: pesan, orang, alat, bahan, teknik dan lingkungan. Kombinasi bahan (soft-ware) dan alat (hard-ware) dinamakan media pembelajaran. Media pembelajaran : segala sesuatu yang dapat digunakan untuk merangsang fikiran, perasaan, perhatian dan kemauan pebelajar sehingga mendorong terjadinya kegiatan belajar.
      Menurut people 1988. Alasan menggunakan media belajar sebagai berikut:
Bentuk Penyajian

Tingkat Pemahaman dan Ingatan
Verbal saja
1
Visual saja
3,5
Verbal+Visual 
6


  

Add caption











Pengetahuan manusia diperoleh melalui :
Ø  Melihat                                   75 %
Ø  Mendengar                             13%
Ø  Merasa,  
Ø  mencium &                             12 %
Ø  meraba

Kontribusi media dalam pembelajaran menurut (Kemp and Dayton, 1985)  :
l  Penyampaian pesan pembelajaran dapat lebih terstandar
l  Pembelajaran dapat lebih menarik
l  Pembelajaran menjadi lebih interaktif dengan menerapkan teori belajar
l  Waktu pelaksanaan pembelajaran dapat diperpendek 
l  Kualitas pembelajaran dapat ditingkatkan 
l  Proses pembelajaran dapat berlangsung kapanpun dan dimanapun diperlukan
l  Sikap positif siswa terhadap materi dan  proses pembelajaran dapat ditingkatkan
l  Peran guru berubahan kearah yang positif

Peran media dalam pembelajaran :
l  Membuat kongkrit konsep yang abstrak
l  Mengetengahkan bagian tertentu yang dianggap penting
l  Memberikan pengganti pengalaman langsung
l  Mendekatkan obyek yang sukar atau berbahaya untuk didekati
l  Memberikan pengalaman segi pengamatan
l  Menyajikan perbedaan warna secara visual
l  Menyajikan informasi yang memerlukan gerak

Tipe Gaya Belajar (Jeannett Vos, 2001) :
    1.  Tipe Auditorial:
            Belajar lebih efektif dengan cara   mendengarkan
     2. Visual:
            Belajar lebih efektif dengan cara melihat
      3. Kinestetik:
            Belajar lebih efektif jika sambil melakukan sesuatu.
                                                   
Klasifikasi Media menurut (Anderson, 1993)
No
 Gol Media
Contoh Media Instruksional
1
Audio
Kaset audio, siaran radio, CD
2
Bahan Cetak
Gambar/foto, buku, modul, grafis, dll
3
Audio cetak

Modul cetak dg kaset
4
Visual Proyeksi Diam
Film bingkai (slide), trasnparansi
5
AV Proyeksi Diam
Film bingkai suara
6
Visual Gerak
Film gerak tanpa suara (film bisu)
7
AV Gerak
Video, TV, VCD
8
Objek fisik
Benda nyata,  model, specimen
9
Komputer
Multimedia, e-learning

Alasan Tidak Menggunakan Media :
         Menggunakan media merepotkan
         Media itu barang canggih dan mahal
         Tidak tahu media atau tidak bisa menggunakan
         Media itu sekedar hiburan, belajar harus serius
         Media itu pemborosan
         Dari dulu tidak pakai media banyak juga orang pandai.